Sekilas kisah dengan Pak Syafi'i Ma'arif

Sudah banyak yang dikupas tentang sosok Buya Syafi’i Ma’arif terutama kiprahnya di Muhammadiyah maupun dengan bangsa ini. Bagaimana kesederhanaan dalam hidupnya, bagaimana Buya Syafi’i Ma’arif tidak ingin didewakan walaupun dirinya adalah seorang tokoh pimpinan Muhammadiyah pada waktu itu dan sebagainya. Namun yang jelas penulis yang diketahui adalah Buya Syafi’i Ma’arif adalah dosen akademik saya sewaktu di kampus Karang Malang. Pak Syafii Ma’arif adalah dosen di IKIP Karang Malang sekarang Universitas Negeri Yogyakarta. Mata kuliah yang diampu waktu itu berhubungan dengan Filsafat Sejarah dan sejarah Asia Barat Daya. Walau penulis hanya mendapatkan pengajaran dari Pak Syafii Ma’arif tidak terlalu lama tetapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa dipetik dari kisah perjalanan hidupnya sewaktu menjadi pengampu di IKIP Karang Malang Yogyakarta yang sekarang bernama Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau mengajar di kampus memang bisa dihitung dengan jari karena kesibukannya pasca reformasi tahun 1998 sering ke sana kemari yang berhubungan dengan kenegaraan. Kadang kala kalau selesai dari luar kota Beliau ini membawa banyak cerita tentang perjumpaannya dengan Gus Dur sewaktu jadi presiden dan beberapa tokoh pemerintahan yang lain. Boleh jadi ini malah materi kuliah yang mengasyikkan bagi mahasiswa waktu itu setidaknya ada masa euforia setelah perjuangan para mahasiswa berhasil menggulingkan pemerintahan waktu itu. Cerita-cerita tentang adu argument dengan Pak Amin Rais waktu itu yang berhubungan dengan masalah kebangsaan juga menjadi hal yang menarik. Nama terlepas dari semua itu adalah jiwa nasionalisme yang begitu tinggi terhadap bangsa ini, sehingga memang patut kalau berbagai khalayak menjulukinya sebagai Guru Bangsa. Bahkan presiden Jokowi ini pernah memintanya menjadi dewan penasehat keprisidenan tetapi ditolak karena ingin menjadi orang yang independen. Namun ketika ditawari oleh Presiden Jokowi menjadi ketua independen antara KPK dan Polri tawaran tersebut baru diterimanya.

Sewaktu menjadi dosen FPIPS waktu itu, hal yang menarik dari beliau adalah bersikukuh tidak mau mengenakan baju KORPRI sebagai simbol Dosen PNS yang intinya tak ingin apa-apa diseragamkan karena pemikiran orang juga tidak seragam. Tak pelak penentangannya itu diikuti oleh beberapa dosen yang lainnya. Hal yang tak kalah menarik adalah waktu menjadi dosen selalu memberikan nilai yang baik buat para mahasiswa dan mahasiswinya, setidaknya nilai terjelek adalah B. Tentunya hal ini sangat membantu nilai mahasiswa dan mahasiswi waktu itu yang untuk memperoleh nilai A dan B harus bersusah payah. Terimakasih Pak Syafi’i Ma’arif yang telah memberikan apresiasi berupa nilai yang terbaik bagi mahasiswa dan mahasiswi waktu itu. Terlepas dari itu semua, Pak Syafi’i Ma’arif ini merupakan tokoh dosen yang menaungi beberapa generasi. Dari dosen almarhum ibu saya sampai ke saya sebagai putranya dan sampai ke generasi berikutnya sampai sekarang semua pasti pernah merasakan pengajarannya. Sekali lagi terimakasih kasih Pak Syafi’i Ma’arif engkau telah memberikan banyak pelajaran bagi kami selaku mahasiswanya. Semoga ilmu yang kau berikan menjadi amal jariyah bagimu. Selamat jalan Guru Besar Sejarah / FPIPS, semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah mu.