Noor Syamsiati

Setiap pagi datang dari arah barat, mengendarai sepeda Honda 70 atau lebih dikenal pitung. Saat itu honda pitung masih terbilang merdeka. Sekarang, telah menjelma menjadi sepeda klangenan, bahkan masih banyak yang demen untuk meraih status tertentu. Tapi, bagi bu Noor (demikian kami memanggil) kendaraan baginya untuk kebutuhan beraktivitas. Kendaraan adalah manifestasi keperluan untuk mengabdi kepada-Nya.

Perawakan yang tinggi semampai, membuat lebih cepat dikenal. Karena anak-anak, biasanya cara menerka seorang guru tidak langsung menyebutkan nama. Mereka lebih suka menyebutkan mata pelajaran yang diampu. Dalam suatu obrolan, anak-anak lebih senang memanggil “guru IPA sing duwur kae” atau “guru IPA sing kocomoto ireng”. Karena guru IPA yang lain, yaitu ibu Sri Wiratni memakai kacamata warna putih. Demikianlah sesungguhnya dunia anak-anak kala di bangku kelas.

Memakai kacamata hitam, dan berperawakan tinggi, serta senang memakai baju motif bunga. Bu Noor, merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pindah tempat kerja. Setahu saya sebelum di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta, beliau mengampu tugas di Kulon Progo. Sampai sekarang saya sendiri tidak tahu dari SMP mana. Dahulu, belum ada tradisi menyambut guru atau karyawan baru dengan ritual tertentu. Hanya diberi kesempatan waktu ada pertemuan atau rapat. Mereka hanya mengenalkan diri. Tak kurang tak lebih. Belum juga ada tradisi briefing setelah upacara bendera hari senin. Andai ada yang pindah tugas ke sekolah lainnya, juga tidak ada perpisahan dengan upacara tertentu.

Hari-hari pertama beliau mengajar, tampaknya diterima dengan hati gembira oleh anak-anak. Cara mengajarpun (mungkin) berbeda dengan guru yang lain. Kedekatan dengan siswa juga terasa hangat. Di luar kelas, beliau demikian dekat dengan anak. Terlihat pada saat menjadi asistennya almarhum Bapak Naf’an Harnadi yang diberi tugas sebagai kesiswaan. Karena setiap saat harus berinteraksi dengan anak, sehingga panggilannya tidak lagi memakai ibu IPA.

Noor Syamsiati adalah pemberian nama orangtua, yang berarti cahaya matahari. Nama yang familier bagi orang kelahiran 60-an sampai 80-an. Penulisan dapat Noor atau Nur. Nama seperti Nur Istiqomah yang artinya cahaya yang lurus. Tapi secara maknawi berarti cahaya yang benderang. Nur Khoirudin artinya cahaya agama yang baik. Orangtua pasti menginginkan agar kelak menjadi orang yang menerangi, memberi pencerahan, memberi kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Ayahnya Bu Noor adalah almarhum Bapak Muhsin. Saya sendiri baru tahu kalau ayahnya adalah Pak Muhsin, setelah beberapa tahun kemudian. Padahal saya mengenal Pak Muhsin sudah lama. Karena beliau adalah aktifis Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang Gedongtengen. Kebetulan beliau sendiri termasuk pimpinan yang aktif, dan saya sendiri menjadi Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Sehingga sering komunikasi dengan almarhum.

Dalam beberapa kesempatan, saya dan bu Noor menjadi bagian dari sebuah tim. Apalagi, setelah beliau dipercaya menjadi Wakaur Kesiswaan. Kami sering ditugasi oleh Kepala Sekolah untuk menyelesaikan pekerjaan, Bersama dengan almarhumah Ibu Siti ‘Asiah, almarhum Bapak Jamadi, Bu Sutiyah, sahabat-sahabat di Tata Usaha dan lain-lain. Mulai dari pekerjaan yang ringan sampai yang berat. Lebur di sekolah hingga sampai jam dua belas malam, atau menjelang dini hari. Meski fasilitas masih terbatas, tapi amanah dari sekolah harus selesai.

Ada dua pekerjaan yang cukup menyita perhatian, Ketika masih di sekolah lama (di Jalan Sultan Agung no. 14, depan Bioskop Permata), yaitu akreditasi. Pengalaman akreditasi pertama, kami belum memiliki pengalaman yang cukup. Sehingga harus diganjar dengan status terdaftar. Padahal persiapannya cukup menyita waktu dan tenaga. Kesempatan akreditasi yang kedua, inilah pengalaman yang cukup berarti bagi guru dan karyawaan saat itu. Persiapan beberapa minggu, dan masih harus mengajar, beberapa orang terpaksa harus lembur sampai dini hari. Pahala setimpal, kami disodori sebuah piagam sebagai sekolah dengan status disamakan. Sehingga Bapak dan Ibu yang sekarang jangan heran, kalau waktu bu Noor menjadi ketua akreditasi harus bersikap tegas. Bila menanyakan satu persatu administrasi pribadi, tentu dengan suara tinggi.

Kebetulan sewaktu di sekolah lama, kepala sekolahnya adalah almarhum Bapak H. Achmad Mudjahid, yang menjabat sebagai kepala sekolah selama 23 tahun. Seangkatan dengan almarhum Bapak H. Ali Arifin dan almarhum Bapak H. Suratman. Meraka ini, menurut saya merupakan perintis di sekolah masing-masing, bersama dengan SMP Muhammadiyah yang lain.

Setelah dipercaya memegang kesiswaan, sedikit demi sedikit, perilaku anak berangsur membaik. Formula ini tercapai bukan hanya usaha beliau sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi. Antara lain, latar belakang orang tua siswa yang sedikit melek dengan pendidikan. Sistem manajemen di sekolah yang terus menggulirkan tata kelola yang lebih bagus. Sarana yang semakin lengkap dan praktis, dan dukungan fasilitas yang berpihak pada tujuan pendidikan. Penanganan siswa yang makin manusiawi. Tak ketinggalan, pola mengajar dari Bapak dan Ibu guru yang makin friendly, humble, dan terkikisnya sistim guru sebagai satu-satunya sumber belajar.

Rupanya kemampuan bu Noor tidak hanya dalam hal “jewer-menjewer” siswa. Beliau juga mahir dalam menata manajemen pendidikan melalui lorong kurikulum. Salah satu dari tiga kaki tegaknya sekolah. Ketiga pondasi tersebut adalah kurikulum, kesiswaan dan administrasi. Andai ketiga pilar tersebut saling menjauh atau bergesekan, jangan mengharapkan sekolah tersebut akan berjaya. Ketiga tiang tersebut harus berkomunikasi setiap saat. Nyawa (komunikasi) jangan sampai terputus. Sebab bila tersendat, maka akan mendekati sakaratul maut.

Semangat bu Noor dalam mendidik dan membimbing siswa tak pernah pudar. Terbukti administrasi pribadi demikian lengkap. Tak seorang siswapun lolos dari perhatiannya. Sekecil apapun akan tetap terus diperjuangkan. Kelengkapan administrasi guru merupakan salah satu indikator bahwa, yang empunya memiliki komitmen yang tinggi terhadap profesinya. Sebuah Amanah yang mulia yang harus diemban sebagai komitmen terhadap janji.

Beliau juga supel terhadap orang lain. Siapapun adalah teman. Siapapun merupakan mitra untuk mencapai tujuan bersama. Tanpa orang lain akan terasa berat bila dipikul sendiri. Kerja sama juga sebagai manifestasi bahwa gotong royong merupakan spirit dalam kehidupan sehari-hari. Bekerja sama bukan hanya sebagai tradisi yang sudah melekat ratusan tahun yang lalu, namun sebagai ikhtiar dan sadar diri bahwa hidup ini tergantung orang lain.

Tiga puluh tahun lamanya saya bersahabat berkolaborasi dengan bu Noor. Apa yang saya tulis merupakan sequel sepanjang yang saya ingat dan sempat saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Masih banyak rentetan kejadian dengan beliau. Ada kalanya lunak dan saling mengerti, ada masanya keras kepala hanya perbedaan pendapat. Itulah ritme berkawan. Justru menjadi sebuah sketsa, bahwa akan tiba saatnya saling memerlukan, saling kangen.

Saya percaya bahwa setiap manusia akan membuat sebuah monumen. Bahannya dapat dari serpihan-serpihan perjalanan hidup masa lalu. Bahwa monument tersebut menjulang tinggi, hanya yang bersangkutan yang dapat membangun dan merasakan. Betapa peluh yang menetes yang akan menjadi saksi dalam sebuah proses. Pundi-pundi ketakwaan harus selalu diisi, betapapun beratnya.

Klaten, 25 Mei 2022