Kisah Secangkir Kopi

oleh : Suci Ayu K. S. Pd. Astika R. Pradibta, S.IP.

Hari keduapuluhtujuh ramadhan 1442 H

Tak jarang, kita menggerutu dan menyesali keadaan. Begitu banyak segi kehidupan yang membuat kita merasa tidak puas dan akhirnya melupakan pemberian Allah yang sangat berharga, yaitu kehidupan itu sendiri. Cerita berikut ini memberikan pelajaran penting agar kita tidak terlalu mempersoalkan mengenai cara Allah “mengemas” kehidupan masing-masing orang.

Suatu hari, beberapa alumni Universitas California Berkeley yang sudah bekerja dan mapan dalam karier, mendatangi profesor kampus mereka yang kini sudah lanjut usia. Mereka membicarakan banyak hal yang menyangkut pekerjaan maupun kehidupan mereka.

Sang profesor lalu ke dapur dan membawa satu teko berisi kopi panas. Di sebuah nampan, ia membawa bermacam-macam cangkir. Ada yang terbuat dari kaca, kristal, melamin, beling, dan plastik. Beberapa cangkir tampak indah dan mahal, tetapi ada juga yang bentuknya biasa-biasa saja dan terbuat dari bahan yang murah.

“Silahkan masing-masing mengambil kopi dan menuangkan sendiri,” kata sang profesor mempersilahkan. Setelah masing-masing orang memegang cangkir berisi kopi, profesor itu berkata, “Perhatikanlah semua bahwa kalian memilih cangkir-cangkir yang bagus dan kini yang tertinggal hanya cangkir-cangkir murah dan tidak begitu menarik. Memilih yang terbaik adalah normal. Tetapi sebenarnya, di situlah letak persoalannya. Ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian menjadi tertanggu. Kalian mulai melihat cangkir yang dipegang oleh orang lain dan membandingkanya dengan cangkir yang kalian pegang. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian ingin nikmati bukanlah cangkirnya, melainkan kopinya.”

Sesungguhnya, kopi itu adalah kehidupan kita, sedangkan cangkir adalah pekerjaan, jabatan, uang, dan posisi yang kita miliki. Jangan pernah membiarkan cangkir yang merupakan wadah dari kopi tersebut mempengaruhi kopi yang ingin kita nikmati. Pekerjaan, jabatan, dan status kita di dalam pekerjaan atau di masyarakat hanya merupakan “wadah” yang seharusnya tidak mempengaruhi kualitas kehidupan kita. Orang boleh saja menaruh kopi di dalam cangkir kristal yang mahal dan indah, tetapi belum tentu mereka dapat merasakan nikmat dari kopi tersebut. Artinya, ada sebagian orang yang menurut penglihatan jasmaniah kita begitu beruntung dan berbahagia, tetapi belum tentu mereka dapat menikmati indahnya karunia kehidupan yang diberikan Allah.

Mari kita belajar menghargai dan mensyukuri hidup ini bagaimanapun cara Allah “mengemasnya” untuk masing-masing diri kita. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi anugerah dan mengisinya dengan hal-hal yang benar dan positif.