Muhasabah tentang Waktu

Oleh: Irkham Sudaryanto, S.T.

Berbicara tentang waktu mungkin kita sering menafsirkan dengan sebuah kesalahan. Konsep waktu seakan memiliki interprestasi yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing individu. Sering kali kita menyalahkan waktu. Berkeluh kesah menyalahkan mengapa waktu berjalan begitu cepat atau mengapa waktu berjalan begitu lama. Namun ubahlah mulai dari sekarang pikiran tentang waktu dengan lebih bijak lagi. Bacalah nasihat ini kemudian renungkanlah. Sudah kita gunakan untuk apa waktu yang diberikan Allah S.W.T selama ini.

  • “Dulu, kita sangat kagum kepada manusia yang cerdas, kaya, sukses dalam karir, dan hebat di dunia”. Ubahlah kriteria kekaguman tersebut dengan “manusia yang hebat di mata Allah S.W.T adalah yang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja”.
  • Dulu aku memilih marah ketika merasa harga diriku dijatuhkan oleh orang lain, yang berlaku kasar kepadaku, dan menyakitiku dengan kalimat-kalimat sindiran”. Sekarang aku memilih untuk “banyak bersabar dan memaafkan. Karena kita yakin ada hikmah lain yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk memaafkan dan bersabar”. Seperti yang terdapat dalam Q.S. Al-A’raf: 199, Allah berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang yang bodoh”.

  • “Dulu kita memilih untuk mengejar dunia dan menumpuknya sebisaku. Ternyata setelah kita sadari kebutuhan manusia hanyalah makan dan minum untuk hari ini. Sekarang ubahkah pikiran kita untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada. Pikirkan bagaimana kita bisa mengisi waktu hari ini dengan apa yang bisa dilakukan serta bermanfaat bagi agama dan sesama”.
  • “Dulu kita berpikir bahwa kita bisa membahagiakan orang tua, saudara, teman-teman jika berhasil dengan karir yang sukses di dunia. Ternyata yang membuat mereka bahagia bukan itu, melainkan ucapan, sikap tingkah laku, dan sapaanku terhadap mereka. Sekarang ubahlah pikiran tersebut dengan “Aku memilih membuat mereka bahagia dengan apa yang ada padaku. Karena aku ingin benar-benar bermanfaat di tengah-tengah mereka.

Khoirun Naas ‘Anfa’uhum Lin Naas”

(Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya)

  • Dulu fokus pemikiran kita adalah membuat rencana-rencana dahsyat untuk duniaku. Ternyata sekarang aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-Nya. Sekarang ubalah pemikiran seperti itu menjadi fokus dan pemikiran bagaimana agar hidup dapat berkenan di mata Allah S.W.T dan sesama jika suatu saat diriku dipanggil oleh-Nya.

Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Tak ada yang dapat menjadim bahwa aku dapat menikmati teriknya matahari esok pagi. Tak ada pula yang bisa memberikan jaminan kepadaku bahwa aku masih bisa menghirup napas esok hari. Jadi, apabila hari ini dan esok kita masih hidup, itu adalah karena kehendak Allah S.W.T semata, bukan kehendak siapa-siapa.