Khotbah Jum'at : Berqurban Karena Kemauan Bukan Kemampuan

Oleh : Kisandrianto

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْـحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى اَلِهَ وَ اَصْحَبِهَ وَمَنْ وَّالَاهُ اَمَّا بّعْدُ فَيَاعِبَدَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَأِيَّايَ بِتَقْوَى االلهِ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah,

Beberapa waktu lalu, di sebuah media baik media televisi atau media sosial lainnya kita dikejutkan dengan seorang pemulung di salah satu daerah di Indonesia yang berqurban kambing besar yang tidak tanggung-tanggung jumlahnya 2 ekor. Tentu saja hal ini sangat mengejutkan kita semua yang merasa perekonomiannya lebih baik dan lebih terhormat dalam memperolehnya. Tak pelak hal ini menjadi pukulan yang telak bagi kita semua bagaimana seorang pemulung yang penghasilannya tiada menentu dengan ikhlas tanpa pamrih apapun hanya mengharap Ridho dari Allah bisa berqurban 2 ekor kambing yang besar. Di lain tempat juga diberitakan seorang pemulung memberikan uang yang diperolehnya sebesar 10 juta rupiah kepada takmir masjid untuk dibelikan hewan qurban. Tentu saja para pengurus masjid pada terkejut menerima uang sebesar itu dari seorang pemulung. Menurut cerita dari pengurus masjid tersebut pemulung tua tersebut sering mengikuti pengajian-pengajian di masjid. Belum lagi cerita-cerita lain seperti seorang nenek tua renta yang rumahnya hanya gubug sederhana dan tiada berlantai hanya beralaskan tanah ternyata tiap tahunnya selalu berqurban. Dan menurut nenek tua tersebut alasan berqurban biar matinya enak (meninggalnya baik/husnul qatimah). Mereka semua pada umumnya tidak pernah merasa rugi memberikan hartanya untuk memakmurkan dan membesarkan Agama Allah ini. Lalu bagaimana dengan kita?Yang lebih baik dalam perekonomiannya, lebih terhormat dalam memperoleh materinya, lebih sehat secara fisik dan masih gagah daripada para pemulung dan nenek tua tersebut. Tidak malukah kita dengan para pemulung dan nenek tua di atas yang tiap tahun selalu berqurban? Setidaknya dari cerita-cerita di atas bisa disimpulkan bahwa berqurban itu adalah kemauan bukan kemampuan. Setidaknya kalau kita dari awal sudah punya niat untuk berqurban, maka kita harus kita rencanakan supaya niat itu terlaksana. Bagi yang mampu atau berlebih rejeki, seketika untuk berdekah dengan hewan qurban tidak begitu masalah, tetapi bagi yang golongan menengah ke bawah akan menjadi masalah tersendiri. Oleh karena itulah untuk bagi yang golongan menengah ke bawah harus direncanakan dari awal dengan cara kita selalu menyisihkan pendapatan kita untuk disimpan baik melalui lembaga perbankan atau mau disimpan sendiri secara mandiri. Setidaknya kalau jumlah tabungan kita cukup bisa kita ambil ketika mendekati hari raya Idul Adha. Jika dalam 1 tahun ternyata dana tersebut belum cukup, bisa kita gunakan dana tersebut untuk tahun berikutnya. Setidaknya kalau tahun ini belum cukup maka bisa kita gunakan untuk tahun berikutnya. Pada dasarnya kalau niat kita tulus dan ikhlas, Insya Allah akan dibukakan rejekinya oleh  Allah bagi kita yang berqurban.

Sebenarnya bagi orang yang beriman, di mata Allah SWT belum akan memperoleh nilai kebajikan jika kita tidak menginfakkan harta yang kita cintai termasuk di sini dalam kita berqurban. Hal ini terdapat dalam firman Allah yang berbunyi :

 

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْم

Artinya :

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (Surat Ali Imran:92)

Ayat ini juga disambungkan dengan Surat Al Baqarah:177 yang berbunyi

 لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Artinya :

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ada beberapa dalil yang menjadi dasar syariat diperintahkannya ibadah qurban kepada umat Islam, baik dari Al-Qur’an, hadits nabi, maupun ijma (pendapat ulama). Dalil qurban yang pertama adalah QS. Al-Kautsar ayat 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka kerjakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”

Berdasarkan kitab Almufashshal fi Ahkamil Udhiyah yang ditulis oleh Dr. Hisamuddin, Imam Qatadah, Atha’ dan Ikrimah mengatakan bahwa perintah berqurban pada ayat di atas ditujukan pada hari raya Iduladha. Di samping surat Al-Kautsar, anjuran berqurban juga terdapat dalam QS. Al-Hajj ayat 34 yang berbunyi:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ

Artinya :  ”Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

Ayat tersebut diperkuat oleh lanjutan firman Allah QS. Al-Hajj 36-37:

“Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Daging daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”

Selain ayat Al-Qur’an, seruan berqurban juga bisa ditemukan pada hadits Rasulullah:

“Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Saya menghadiri shalat idul-Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mushalla (tanah lapang). Setelah beliau berkhutbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku.”

Dari Abu Hurairah, Rasulullah juga bersabda:

“Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.”

Dalil lain yang menjelaskan tentang perintah qurban adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut:

“Dari Anas bin Malik, Nabi Saw. berkurban dengan dua kambing gemuk dan bertanduk. Saya melihat Nabi Saw. meletakkan kedua kakinya di atas pundak kambing tersebut, kemudian Nabi Saw. membaca basmalah, takbir dan menyembelih dengan tangannya sendiri.”

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فىِ اْلقُرأنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الاٰيَاتِ وَالذِّكْرَ اْلحَكِيْمِ، وَ تَقَبَّلَ مِنيِّ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الَسمِيْعُ اْلعَلِيْم

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، وَاْلعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلَّا عَلىَ الظَّالِمِيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الملِكُ اْلحَقُّ اْلُمبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اْلَمبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالمِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَاأَيُّهاَالْإِخْوَانُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah,

Dari paparan yang khatib sampaikan tadi, setidaknya bisa kita tarik kesimpulan, bahwasannya ibadah qurban itu bisa dilaksanakan oleh kita semua asalkan kita punya niat dan kemauan untuk melaksanakannya. Berqurban bukan karena kemampuan, tetapi karena kemauan. Setidaknya kita rencanakan dari awal untuk berqurban dengan menyisihkan rezeki yang kita peroleh terutama bagi golongan ekonomi kita yang menengah ke bawah. Perintah firman Allah sudah jelas bahwa kita tidak akan memperoleh nilai kebajikan jika kita tidak mau menafkahkan harta yang kita cintai disamping itu juga perintah berqurban beriringan dengan perintah shalat yang terdapat dalam Surat Al Kautsar sebagai bentuk rasa syukur kita yang telah diberikan nikmat yang sangat banyak oleh Allah SWT.

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah,

Marilah kita akhiri kajian jum’at ini dengan berdo’a semoga Allah mengabulkan doa yang kita minta hari ini

اَلَّلهُمَ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ، اَلأَحْيَاِء مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ  مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ، فَيَاقَاضِيَ اْلحَاجَاتِ.اَلَّلهُمَ إِنَّانَسْأَلُكَ اْلهُدَى وَالتُّقَى وَاْلعَفَافَ وَاْلغِنىَ.

رَبَّناَ هَبْ لَناَ مِنْ أَزْوَاجِناَ وَذُرَّيَّاتِناَ قُرَّةً أَعْيُنٍ وَاجْعَلْناَ لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَاماً. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابُ.

رَبَّناَاٰتِناَ فِي الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِى اْلأٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعَزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلىَ اْلمُرْسَلِيْنَ، وَاْلحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن