Khotbah Jum'at : Awali dengan Senyum

Oleh : AMK Affandi

اَلْـحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى اَلِهَ وَ اَصْحَبِهَ وَمَنْ وَّالَاهُ اَمَّا بّعْدُ فَيَاعِبَدَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَأِيَّايَ بِتَقْوَى االلهِ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ

Hadirin Sidang jumat Rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada siang hari ini, kita masih diberi kesempatan untuk mengagungkan asma Allah, mengingat Allah, memenuhi panggilan Allah, dalam majelis yang sangat mulia yaitu melaksanakan ibadah sholat jum’at. Seminggu sekali kita asah kembali kadar keimanan kita, seminggu sekali kita isi ruhani  dengan mendengarkan bimbingan rasul dan jalan yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Saya berdiri disini selaku khotib, untuk mengingatkan kepada diri kami pribadi dan jama’ah yang berbahagia, untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, yaitu dengan selalu menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-larangan Allah.  Sholawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada kekasih Allah junjungan kita nabi besar Muhammad saw. Kepada sahabat-sahabatnya, keluarga dan juga kaumnya sampai akhir zaman nanti.

Abu Talhah adalah seorang mujahid Islam yang tidak kenal lelah dalam memperjuangkan Islam sampai usia memasuki senja. Beliau mulanya adalah seorang penyembah pohon. Penyembah batu, dan lain-lain yang dianggap keramat. Mengapa Abu Talhah masuk Islam, dan menjadi tokoh Islam yang disegani? Tidak lain adalah karena perkataan halus Ummu Sulaim. Ketika Abu Talhah melamar Ummu Suliam, yang diucapkan oleh Ummu Suliam adalah “ jika engkau sudi masuk Islam, itulah maharku dan aku tidak akan minta lebih dari itu”. Ucapan Ummu Sulaim rupanya menjadi buah pembelajaran bagi generasi berikutnya hingga sekarang. Bahwa ucapan yang manis, ucapan yang lembut, disertai dengan raut wajah yang teduh, dengan senyum yang tulus, rupanya mampu melunakkan hati sekeras karang. Abu Talhah yang semula menjadi musuh Islam dalam barisan pertama, seketika runtuh dengan ucapan lembut namun menggetarkan.

Rupanya, ucapan Ummu Sulaim merupakan hasil didikan Rasulullah Muhammad saw. Dalam setiap berbicara, beliau selalu menyejukkan, tidak pernah menyakiti hati orang lain. Sehingga dakwah yang beliau sampaikan nyambung. Tidak hanya sampai ke telinga tapi menunjam ke hati para sahabatnya. Ummu Sulaim tidak sendirian. Masih sederet perempuan yang mampu mendarmabaktikan kekuatannya demi kemajuan Islam. Hafshah binti Umar Bin Khatab, Zainab binti Khuzaimah, Zainab binti Jahsy, dan lain-lain.

Kaum muslimin yang berbahagia,

Dakwah merupakan sebuah kata yang sarat makna, tantangan dan tuntunan. Dakwah merupakan aktivitas yang sangat dicintai Allah, sebagaimana tersebut dalam surat Fusilat : 33

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Artinya : “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?
Sejarah membuktikan bahwa Islam mengalami perkembangan yang pesat karena didukung oleh dakwah dan jihad. Keduanya bergandengan tangan. Dakwah berfungsi memberi informasi kepada manusia tentang rambu-rambu kehidupan, sedangkan jihad sebagai pelindung.

Baik dakwah maupun jihad keduanya mengandung resiko yang tinggi. Dicemooh, dihina, di adu domba, bahkan kekerasan fisik. Bila demikian berat, mengapa Allah mewajibkan kepada setiap muslim dan muslimah untuk berdakwah? Bukankah Allah sendiri berfirman bahwa pada akhirnya kemenangan di pihak yang benar?

Karena umat Islam dididik untuk menjadi manusia yang aktif dan dinamis. Allah tidak suka melihat hamba-Nya menjadi orang yang pemalas. Tidak ingin hamba-Nya menjadi manusia yang hanya menerima. Kedigdayaan Islam hanya dapat diperoleh dengan jalan semangat pantang menyerah, memiliki wawasan Ilmu dan Agama yang luas, dan sabar. Dengan cara seperti itu, umat Islam menjadi umat yang mulia karena doa dan bertahta karena usaha.

Salah satu sifat Allah yang memperoleh keberuntungan dari Allah swt adalah senantiasa melakukan dan menggembirakan dakwah Islam.

اَلتَّاۤٮِٕبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السّاۤٮِٕحُوۡنَ الرّٰكِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَالنَّاهُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَالۡحٰــفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰه ِ‌ؕ وَبَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ

Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman.” At Taubah : 112

Dalam ayat ini tampak jelas bahwa setiap manusia yang telah berbuat dosa, segera bertobat. Mereka yang kembali kepada Allah dengan cara menjauhakan diri dari keridhaan-Nya. Kalimat berikutnya disusul bahwa orang-orang mukmin yang mencapai puncak kesempurnaan iman mempunyai sifat yang ikhlas, semata-mata hanya Allah dalam setiap menjalankan ibadah. Tanpa riya’ maupun syirik. Pada akhir ayat dinyatakan bahwa bagi orang yang melakukan dakwah, agar dilakukan dengan menggembirakan. Bertutur kata dengan lembut, dan memberi suri tauladan.

Hadirin siding jum’at yang berbahagia.

Pembinaan masyarakat tidak boleh diabaikan begitu saja. Dakwah yang kuat adalah yang memiliki dasar kerakyatan di masyarakat. Semakin kuat dakwah di sektor ini, harapan tegaknya panji-panji Islam semakin berkibar. Harus diingat bahwa dan disadari apa yang Rasulullah katakan “Akan datang suatu masa, namanya, Al qur’an tidak tinggal melainkan tulisannya, masjid-masjidnya bagus namun kosong dari petunjuk, ulama-ulamanya termasuk manusia yang utama, dari mereka timbul fitnah-fitnah”. Semoga kita dijauhkan dari ucapan Rasulullah tersebut.

Kembalilah cara-cara berdakwah seperti yang dilakukan Rasulullah. Beliau mampu mengubah dunia, bukan secara individu. Beliau mampu merubah peradaban. Dakwah yang dilakukan Rasulullah adalah dengan pemikiran tanpa kekerasan. Rasulullah membangun kesadaran umat terhadap Islam dan membangun opini Islam di tengah masyarakat.

Setiap orang berhak untuk mendapatkan sentuhan dakwah dengan kehalusan, penuh kehati-hatian, sabar dan penuh hikmah, sebagimana Allah berfirman dalam surat an Nahl : 107

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Sejarah membuktikan bahwa berdakwah dengan sikap kasih sayang lebih banyak diterima dibanding dengan memberi memberi imbalan. Rasulullah telah banyak membuktikan, Kasih sayang menggambarkan bahwa antara orangtua dan anaknya dalam kenyatuan jiwa. Pondasi ini hendaknya dimiliki oleh seorang pendakwah.

Fasih berbicara didepan umum akan menambah kewibawaan. Berpidato, beretorika, atau berbicara di hadapan orang banyak harus dilatih. Ketrampilan berbicara ini tidak serta merta dimiliki oleh orang. Seorang pendakwah juga harus yakin, bahwa yang disampaikan merupakan kebenaran. Dalam menyampaikan dakwah, bukan hanya pandai berargumen, tetapi semua hal yang disampikan harus mengandung kebenaran dan kejujuran. Cerdas berargumen saja tidak cukup jika ucapannya dipenuhi ketidakbenaran.

Kunci sukses dakwah Nabi Muhammad SAW selanjutnya adalah memiliki hati yang bersih. Inilah mengapa Nabi Muhammad SAW sukses menyebarluaskan ajaran Islam. Walaupun ada banyak cobaan yang menghalangi niat baiknya, seperti hinaan, cacian, siksaan, tapi beliau tetap menanggapinya dengan kata-kata yang keluar dari hatinya yang bersih sehingga dapat melembutkan hati mereka yang belum luluh dan memihak ajaran Allah SWT.

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتُهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Kaum Muslimin yang berbahagia

Akhirnya marilah kita memanjatkan do’a kehadirat Allah SWT. Mudah mudahan Allah berkenan mengabulkan doa kita.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٌ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَلّلَهُمَّ اغْفِرْلِلْمُسِلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْاءَلُكَ سَلَمَتً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتَ فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَهً فِي

 الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يآاَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.

 رَبَّنَآ أَتِنَآ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَآ عَذَابَ النَّار

 سُبْحَانَ رَبكَ رَبّ الْعِزَةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمُ عَلىَ الْمُرْسَلِيْن وَالحَمْدُ ِللهِ رَبّ ِاْلعآلَمِيْن