Bersimpuh dalam Dekapan Ibu

oleh : Ris Arini

Hari kedelapan ramadhan 1442 H

Birrul walidain tidak mengenal batas, usia, suku, jenis kelamin. Berbakti kepada orangtua sepanjang hayat. Bahkan sampai kedua orangtua tiada. Itulah keistimewaan Islam. Jasad boleh berpisah, ikatan batin akan tetap tersambung, dengan syarat masih dalam ikatan iman dan selalu beramal shalih.

Ratusan kilometer bukanlah jarak yang jauh, bila niat bertemu dengan mertua. Sejengkal, dua jengkal tanah hanyalah koordinat, yang sangat mudah dilampaui dengan rasa kerinduan. Akan adem bila perjalanan lewat jalur selatan. Pesona gunung kidul yang terasa kering tapi menggoda. Jalan berkelok-kelok tapi pemandangan sangat elok. Kesejukan rentetan cemara sewu menyapa dengan lambaian dedaunan. Angin mempermainkan pucuk cemara dengan sangat ritmis. Terik matahari tak mempan menyengat, karena disapu desahan angin gunung. Nun jauh disana kemilau telaga sarangan, meneguk dahaga. Meleburkan rasa lelah yang hilang sekejap.

Sejauh ratusan kilometer kutempuh, bagiku tak terasa bila telah sampai rumah Ibu Mertuaku. Goresan pipi mengambang, menabur senyum kehangatan menyambutkanku dengan penuh kasih sayang. Kerinduan terlunaskan. Yogyakarta-Ponorogo, bukanlah jarak yang dekat. Ditempuh dengan penuh peluh dan kelelahan. Jarak yang ditempuh sungguh membuat kami sedikit pilu dalam kelelahan, dan menegangkan, namun bagi kami tak mengurungkan niat untuk sowan sungkem ke orang tua dan saudara-saudaraku.

Setelah putaran jarum jam berlari mengelilingi menit demi menit, jam demi jam, sampai akhirnya harus bernafas lega melihat rumah kesayangan keluarga kami. Tak terasa sudah hampir dua kali lebaran ini, niatku urung untuk datang ke sana. Terganjal oleh sebuah makhluk yang berukuran nano centimeter. Corona … oh …Corona … akankah ini terulang lagi seperti flu spanyol. Virus yang mampu menerjang ratusan ribu orang meregang nyawa.

Segala daya upaya telah kulakukan tetapi pembatasan itu yang membuat kami menunda. Sudut-sudut kota sangatlah membuat kami mengurungkan niat untuk bersilaturrahmi.  

Nyuwun pangapunten Ibu. 

Teringat rasa kangen beliau pada kami, dengan terhuyun-huyun menyambut kami yang datang hanya menengok saja, tetapi dengan ikhlasnya beliau terima dengan lapang dada dan bahagia.

Seiring berjalannya waktu kami hanya berkomunikasi dengan video call saja. Rindu yang terbendung dapat sedikit terobati.

Ibu, semakin hari semakin sepuh. Semakin rapuh, semakin kami rindukan, doa-doa panjenengan sangat kami harapkan. Ya Allah akankah tahun ini kita bisa bersilaturrahmi kembali. Masihkah dengan dampak covid 19 ini yang membuat kami tidak mudik lagi.

Mudah-mudahan pandhemi covid segera berlalu Aamiin.

Sehat …. Sehat…  nggih Ibu.

Kami berdoa untukmu, panjang umur, sehat, bahagia, dan kami haturkan mohon maaf dan terimakasih atas segala perhatiannmu. Untukku dan keluarga.