Character Building

oleh : Rischa Mahmudi Haris, M. Pd.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang memiliki tujuan yang jelas yaitu mencerdaskan anak bangsa. Kecerdasan anak tidak semata-mata muncul dari diri anak itu sendiri, melainkan dapat muncul dengan adanya perlakuan melalui suatu proses yang berkesinambungan yang diwadahi dalam bentuk pembelajaran.

Pembelajaran itu sendiri merupakan suatu proses yang dilalui anak (siswa) untuk mengetahui tahapan-tahapan ilmu pengetahuan sesuai dengan tahapan cara berpikirnya. Pembelajaran juga merupakan interaksi antara guru dengan siswa secara langsung dan guru memiliki peranan yang sangat penting. Kenapa sangat penting, karena guru merupakan ‘nahkoda’ dalam proses pembelajaran tersebut. Guru juga merupakan komponen vital dan fundamental dalam proses pendidikan, yang mengedepankan proses pematangan kejiwaan, pola pikir, dan pembentukan serta pengembangan karakter (character building) untuk menjadikan manusia seutuhnya. Proses pembelajaran akan berjalan dengan baik ketika guru tersebut juga dapat mengajar dan mendidik dengan baik dan diterima oleh siswa. Sangat mudahkan…!!! Tetapi dalam kenyataannya tidak semua guru dapat mengelola pembelajaran dengan baik dan tidak sedikit pula siswa yang tidak dapat menerima pembelajaran yang dilakukan. Oleh karena itu, berarti guru “WAJIB” untuk bisa mengelola pembelajaran agar tujuan dalam pendidikan dapat tercapai secara maksimal.

Pembelajaran yang tidak berjalan dengan baik pastinya memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya. Mari kita ulas…!!! Menurut kacamata pengamatan saya, faktor utama adalah ‘kesiapan mental’ dari guru tersebut. Kenapa saya sebut kesiapan mental guru, karena tidak sedikit guru terlalu “kaget” ketika bertemu dengan siswa. Melihat tingkah laku siswa antara yang satu dengan yang lainnya berbeda, cara bicara siswa juga berbeda, cara berkomunikasi dengan guru dan sesamanya juga berbeda, apalagi kalau ketemu siswa yang “vokal di kelas” dan tidak sedikit guru juga me”labeli” siswa tersebut sebagai trouble maker atau si pembuat masalah. Kata lain yang dapat disematkan yaitu guru kaget untuk menjadi guru profesioanl.

Anak jaman dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Berbeda dalam arti adaptasi mereka dengan lingkungan, teman, dan dengan adanya teknologi membuat karakter anak menjadi lebih kompleks. Kita sebagai guru tidak boleh menyamakan mereka dengan kita ketika masih seusia mereka. Karena cara adaptasi mereka dan lingkungan adaptasinya sudah jauh berbeda. Apalagi masih setingkat SMP yang notabene anak setingkat SMP belum memiliki prinsip dalam beradaptasi.

Oleh karena itu, menjadikan sebuah tantangan yang menarik bagi kita sebagai guru untuk dapat membimbing anak-anak kita menjadi yang terbaik di dalam hidupnya. Profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Kenapa? Karena kita (guru) akan dijadikan panutan bagi mereka dalam hidupnya. Panutan bersikap, berbicara, bertingkah laku, dan panutan berpengetahuan. Jadilah panutan yang terbaik buat mereka (siswa)…!!!

Kembali ke awal tadi…!! Tantangan guru adalah kesiapan mental guru. Kesiapan mental guru yang dimaksud adalah guru harus siap untuk fleksibel (luwes), bergairah, peduli, dan berpengetahuan. Salah satunya guru harus ‘menggariahkan‘. Artinya ketika saat proses pembelajaran gairah (semangat) yang menggebu-gebu harus ditunjukkan ke anak-anak (siswa). Sehingga siswa akan terpesona dan ikut hanyut dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Jika meminjam konsep guru IPA, ‘gairah’ akan muncul ketika pejantan dan betina saling bertemu. Dan pada saat itulah akan terbentuk hubungan yang saling membutuhkan serta terjalinnya kecocokan. Sama halnya ketika kita (guru) bertemu dengan siswa dalam proses pembelajaran. Tunjukkanlah gairah mengajar itu kepada mereka. Niscaya proses pembelajaran yang efektif dan efisien akan terbentuk sehingga akan memotivasi siswa untuk terus belajar dan belajar.

Gairah pembelajaran tidak terlepas dengan adanya rancangan yang matang oleh guru. Rancangan tersebut juga mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan penggunaan metode dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang menjadikan salah satu akibat gairah pembelajaran menjadi turun, ketika rancangan yang sudah disusun tidak bisa berjalan dengan baik atau bahkan ketika proses pembalajaran guru tidak menggunakan rancangan pembelajaran. Selain faktor tersebut, diperparah dengan seringnya gonta-ganti kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga mau tidak mau guru harus mengikuti pedoman kurikulum yang sudah dirancang. Namun, sebagus dan semodern apapun sebuah kurikulum dan perencanaan pembelajaran yang matang, jika tanpa guru yang mempunyai kesiapan mental yang baik (berkualitas), tidak akan membuahkan hasil yang optimal. (bersambung)

Sumber : majalah1000guru.net